sumber foto : erwinbosman-eye-pixabay.com

NURILFMJAMBI.COM – Banyak orang cenderung menyalahkan penggunaan ponsel pintar atau faktor usia saat penglihatan mereka mulai terganggu. Padahal, menurut dr. Fatrin Patricia Salim, Sp.M, seorang spesialis mata di Siloam Hospital Lippo Village, terdapat beberapa kebiasaan sehari-hari yang dilakukan hampir setiap hari namun secara tidak sadar meningkatkan risiko gangguan pada mata. Masalah utamanya adalah kerusakan mata sering kali tidak langsung terasa, dan saat gejala mulai muncul, kondisinya terkadang sudah cukup berat.

Penting untuk dipahami bahwa meskipun ada gangguan mata yang tidak bisa dicegah karena faktor usia atau keturunan, banyak masalah penglihatan lainnya yang risikonya dapat dikurangi melalui perubahan kebiasaan. Menjaga kesehatan mata ternyata bukan sekadar mengonsumsi wortel atau meminum suplemen vitamin secara rutin. Hal yang jauh lebih krusial adalah bagaimana kita memperlakukan mata kita dalam aktivitas harian dan menghindari perilaku yang dapat merusak fungsinya.

Salah satu kebiasaan buruk yang sering dianggap sepele adalah terlalu sering mengucek mata saat terasa gatal atau berdebu. Tangan manusia membawa banyak kuman, sehingga ketika menyentuh mata, risiko infeksi akan meningkat tajam, selain adanya potensi luka pada permukaan mata. Bahkan, kebiasaan mengucek mata secara terus-menerus diduga dapat meningkatkan risiko perubahan bentuk kornea yang dikenal sebagai keratoconus.

Di era digital, menatap layar gawai seperti ponsel, komputer, atau televisi dalam waktu lama menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Perlu diketahui bahwa menatap layar tidak secara langsung menyebabkan mata minus, namun membuat mata bekerja jauh lebih keras dan frekuensi berkedip berkurang drastis. Akibatnya, mata menjadi lebih cepat kering, perih, terasa pegal, hingga menyebabkan penglihatan menjadi kabur untuk sementara waktu.

Untuk mengatasi kelelahan akibat layar, dr. Fatrin menyarankan penerapan aturan 20-20-20 sebagai langkah pencegahan. Aturan ini mengharuskan kita untuk mengalihkan pandangan setiap 20 menit selama 20 detik ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki atau 6 meter. Selain itu, menjaga kelembapan mata dengan tetap berkedip secara normal dan mengatur pencahayaan ruangan sangat disarankan agar otot mata tidak bekerja terlalu berat.

Kebiasaan tidur tanpa melepas lensa kontak atau softlens juga merupakan perilaku berisiko tinggi yang masih sering dilakukan. Saat kita tidur, pasokan oksigen ke kornea secara alami berkurang, dan penggunaan softlens akan semakin menghambat kornea untuk mendapatkan oksigen atau “bernapas”. Dampak dari kebiasaan ini meliputi iritasi, luka pada kornea, hingga infeksi serius yang bisa mengancam penglihatan secara permanen.

Selain itu, penggunaan obat tetes mata secara sembarangan tanpa mengetahui kandungannya dapat menjadi bumerang bagi kesehatan mata. Banyak orang membeli obat tetes mata bebas hanya karena mata merah atau gatal, padahal tidak semua mata merah memiliki penyebab yang sama. Penggunaan tetes mata yang mengandung steroid tanpa pengawasan dokter justru dapat memicu tekanan bola mata tinggi, mempercepat katarak, atau memperberat infeksi yang sudah ada.

Kurangnya perlindungan mata saat melakukan aktivitas fisik tertentu juga menjadi faktor penyebab cedera yang sering diabaikan. Misalnya, saat berolahraga seperti badminton dan squash, atau saat bekerja menggunakan mesin gerinda, mata sangat rentan terhadap benturan atau serpihan benda asing. Cedera mata tidak hanya dipicu oleh benda besar, tetapi juga oleh serpihan logam, kayu, bahkan debu kecil yang sebenarnya bisa dicegah dengan menggunakan pelindung mata yang sesuai.

Hal lain yang tidak boleh dilupakan adalah kesehatan mata tidak terlepas dari kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Penyakit sistemik seperti diabetes dan tekanan darah tinggi harus tetap terkontrol karena dapat memberikan dampak langsung pada kualitas penglihatan kita. Jika mata mengalami masalah seperti nyeri, silau, atau penurunan penglihatan, segera periksakan ke dokter daripada mencoba mengobati sendiri secara terus-menerus.

Sebagai penutup, dr. Fatrin mengingatkan bahwa gangguan mata sering kali berkembang secara perlahan tanpa disertai rasa sakit atau tanda kemerahan di awal. Jangan menunggu sampai penglihatan menurun drastis untuk mulai peduli pada kesehatan mata. Dengan memulai kebiasaan kecil yang baik setiap hari, kita dapat melindungi aset penglihatan kita karena mencegah selalu jauh lebih baik daripada mengobati.( TIM )

By nurilfm